Sunday, February 17, 2013

A letter to my Dad..

Hello Dad,
Heaven treated you well?

Cela a été presque 5 ans que tu est décédé...

It has been almost 5 years since you passed away..

Gak kerasa udah 5 tahun...

Dan makin hari, makin ga bisa lupa dengan segala memori bersama papa..

Dad, why are you not here at the time like this?

I really want to show you something

I want you to see my achievements now...It's aaaallllll just for yooooouuuuu, Daaaaddddd.




Have you seen it from.... heaven? Please say yes.

Masih ga percaya pa. Ejie bisa ngelakuin ini semua sendiri. Dari papa gak ada, Ejie udah mengurus hidup Ejie secara mandiri. Padahal, dulu kalo ada apa-apa ya mintanya ke papa. Tapi sekarang keadaan udah berubah 180 derajat. Udah dari 5 tahun yang lalu, semua kemanjaan itu sirna.

Papa selalu bilang untuk selalu melakukan banyak hal dalam hidup. I just did.
Papa selalu bilang untuk memperbanyak pengalaman. I just did.
Papa selalu bilang untuk bebas meraih mimpi dan cita-cita. I'm in the process.

Makasih pa udah banyak ngasih pelajaran hidup buat Ejie.
Hope to see you again someday.
I miss you.

-Your Little Girl-













Thursday, January 24, 2013

This is my first daaaayyy... Hello Kemlu...

Tibalah saya di Pusdiklat Kemlu. Setelah berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, lebay, tapi pada akhirnya saat2 yang saya tunggu datang juga, yaitu MASUK ASRAMA.

Hari pertama ini saya dikejutkan dengan berbagai jenis makhluk di SEKDILU 37. Ya Tuhan, kita memang sempat dibilang angkatan yang nilai-nilainya standar aja, tapi asli deh, orang-orangnya tuh asik semua. Asik dalam artian, mereka pintar tapi gila. Hamdallahnya saya ada di kelas Sekdilu B yang isinya cowok-cowok aneh bin ajaib. Ada anak gaul, anak keraton, anak nerd, anaknya siapa tau, tapi selalu ada aja tingkah mereka yang bisa bikin saya ketawa.

Tadi saya bertemu Direktur Sekdilu namanya Pak Ben, beliau banyak cerita orangnya. Ya, lumayanlah 3,5 jam isi sesi perkenalan didominasi oleh beliau semua. Intinya sih, angkatan saya paling prihatin. Selain memang untuk Sekdilu ini ga ada anggarannya, magang di luar negeri pun mau ditiadakan. Hahaha. Dengan berbagai alasan sih, tapi tetap aja, masalah anggaran itu masih kurang bisa saya terima dengan akal sehat. Yang kedua, beban baru buat saya dan teman-teman adalah nilai-nilai yang didapat dari tes masuk tahun ini sangatlah dibawah standar. Dibandingkan dengan Sekdilu 35 dan 36, belum ada apa2nya.

Oh iya satu lagi, mayoritas anak S2 ya. Agak gimana gitu, hahahaha. -kemudian melihat kondisi pendidikan diri sendiri-

Somehow, ini bisa jadi cambukkan banget buat saya. Seneng karena bisa berada dengan orang-orang dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan Papua, dan mereka yang punya background yang berbeda. Saya pasti akan banyak belajar dari mereka.

Saya tidak mau terlalu berambisi, berkompetisi, mengalahkan kemampuan teman-teman yang lain, apalagi menjadi egois. Ekspektasi saya cuma satu, semoga lewat diklat selama 8 bulan ini, ada banyak pelajaran yang saya raih.
Hello saya anak sastra, banyak PR yang harus dikejar untuk menyamakan mereka yang anak HI dan S-2 di luar negeri.


Tapi tetep aja sih...

Still can't believe I can make it.
I can be surrounded by good people here.


Monday, January 14, 2013

Gerakan Anti Anak Manja.



Cuma bilang, saya paling ga bisa ngeliat anak…seumuran saya dan…… manja. D'OH!!!
Yang apa2 tinggal suruh, tinggal menikmati fasilitas yang dikasih, yang cuma bisa melakukan sesuatu dengan uang, yang cuma bisa terima jadi, yang cuma bisa ngekor, yang cuma bisa enaknya.. Dan yang gak punya prinsip dalam hidupnya.

Ucapan ini keluar sendiri dari mulut seorang anak berumur 24 tahun yang sudah merasakan 18 tahun dimanjakan oleh orangtuanya, yang adalah saya. Kenapa Cuma 18 tahun? Sisanya adalah fase transisi saya menjadi anak yang gak manja, mandiri, atau bahkan sekarang udah terlalu mandiri. Hahaha.

Manja sih boleh, tapi alangkah baiknya sesuai porsi lah ya.

Gak pernah nyalahin juga sih keadaan orang2 yang memang sudah difasilitasi, sudah tinggal jadi, tinggal jalan. Tapi, saya yakin, ada banyak alasan juga utk tidak memakai semua yang ada di mereka, yang memudahkan mereka, untuk mengambil jalan lain yang mungkin jauh lebih challenge-ing dan baik.

Sebagai contoh, jujur, saya lebih appreciate anak yang bisa sukses jadi pejabat dengan usaha dia dari nol even dia anak pejabat daripada mereka yang hanya memakai fasilitas dan memanfaatkan keadaan yang dimilikinya untuk bisa menjadi pejabat juga… seperti…..ayahnya. ;p

Saya juga paling anti ngeliat anak yang cuma bisa ngeluh padahal kehidupannya masih dalam kelas A-B. Adaaaa aja yang dikeluhin. Heran.

Cowok-cowok yang punya pacar cuma dijadiin supir untuk nemenin dia ke salon dan shopping, saya juga prihatin dengan kalian.

Dan satu lagi, saya paling kasian sama anak yang cuma bisa ngabisin duit orangtuanya dan dipake buat hal2 yang  gak penting. Sekalinya bener buat sekolah, di luar negeri pula, eh malah gak selesai-selesai. Atau dikasih modal buat usaha, eh uangnya buat narkoba.

Mungkin mereka tidak tahu betul apa esensi kehidupan, dimulai dari bagaimana kita harus berjuang dalam menjalani hari-hari yang dikasih Tuhan sekaligus menikmati segala jerih payahnya.

Beruntunglah kalian yang pernah merasakan fase bahagia dan susahnya hidup dalam kurun waktu yang cepat. Dengan begitu kalian punya cara pandang yang luas terhadap kehidupan itu sendiri dari dua kacamata yang berbeda. 

Terima kasih atas fase hidup bahagia. Terima kasih atas fase hidup menderita. You've teached us a lot how to survive.



NB ;  Mohon maaf jika saya terlalu nyinyir. Tulisan ini sama sekali tidak berniat untuk menyinggung satupun kaum atau orang tertentu.

Saturday, January 12, 2013

The Journey of Life : France Adventures


Masih teringat,  kota atau tempat mana saja yang berhasil saya kunjungi selama tinggal di Prancis. Dan di setiapnya pasti mempunyai keunikkan sendir dan cerita yang gak mudah untuk dilupakan.
Oke, yang pertama dari yang paling mainstream dulu deh.

PARIS
Paris or you can say ‘Pari’ in French, Is one of the standard city I want to tell first. Semua orang kalo ke Prancis pasti maunya ke Paris, hihihi. But you know what, France still has a lot of cool cities more than Paris. Kelebihannya, kamu mau cari apapun di Paris pasti ada, pekerjaan, keriaan dan kesenangan, sekolah, sampai jodohpun mungkin ada. Tapi, kalau yang kamu cari adalah ketenangan untuk hidup, I don’t recommend it. At all. Paris sangat hectic, guys. Kalian bisa stress kalau mengikuti gaya hidup mereka, kecuali kalian memang the truly Parisians. I don’t mind.
Paris, the city of lights, cantik di waktu siang, apalagi di malam hari. Your lights will guide me home. Like Coldplay said.



Eiffel Tower on Xmas eve

VERSAILLES
Siapa yang gak kenal Marie Antoinette dan suaminya yang kerjaannya Cuma bisa ngabisin duit rakyat dan hidup dengan belenggu kemewahan? Nah, Versailles ini adalah istana megah punyanya mereka dulu. Wah, ini berkali-kalinya megah, bahkan mewah, luas, dan terlihat sangat mahal. Kalo diibaratkan koruptor, Louis XVI dan Marie Antoinette gak setengah-setengah melakukan korupsi. Waktu saya kesana itu pas sekali ada sebuah pertunjukkan air mancur di kebunnya yang sangat luas itu. Jadi yang awal masuknya gratis, ternyata harus bayar 7 euro. Yaudah, yang penting puas. Taman-tamannya pun semua tertata rapi dan cantik kayak lagi di sebuah dongeng anak-anak. Kekurangannya sih ada ya, terlalu gede. Capek banget kalo buat keliling seharian, apalagi saat itu saya salah kostum, pake boots dengan hak yang cukup tinggi.
Oiya, dengan berkungjungnya saya ke Versailles ini telah merapuhkan anggapan saya yang selama ini salah. Saya kira Versailles itu ada di Paris, tapi faktanya jauh juga walaupun tetap di region l’île de France.  Saya lupa ada di zona berapa, tapi yang jelas bukan di kota Paris nya. Yes, Versailles isn’t in Paris. HAHAHAHA. 

Versailles Gardens

CAEN
Gak banyak yang tahu tentang kota ini, sampai mantan dubes di Prancis selama 18 tahun yang mewawancarai seleksi Kemlu saya kemarin saja tidak tahu. Menyedihkan. Hahaha. Kota ini emang paling kecil diantara semua kota yang ada di Prancis. Penduduknya aja paling Cuma 200ribuan. Dan sebenarnya itulah mengapa saya dambakan sekali kota tempat tinggal saya waktu di Prancis ini. Tenang banget dan gak berisik. Caen, saking kecilnya kota ini, saya sampai hafal jalur-jalur bus dan tram nya, tau jalan-jalan tikusnya, dan bisa bertemu di halte tram berkali-kali dengan orang yang sama. Hahaha. Seriously, this city has brought me a ton of memories with my host fam, my friends, and my life itself.

Caen city

DEAUVILLE
Masih masuk di bagian arrondissement-nya Paris, cuma letaknya ada di region Basse-Normandie. Deauville menjadi salah satu kota di utara Prancis yang saya tuju bermodalkan nyetir dan GPS saja. Ternyata jarak Caen-Deauville hanya ditempuh 45 menit kalau naik mobil. Tanpa macet, tanpa klakson yang mengganggu, justru malah disuguhkan dengan pemandangan hamparan lading-ladang hijau cantik khas Prancis. Asik.
Gak kuat sama sekali dengan harga-harga di Deauville, mahal layaknya di Paris. Sampai saya gak rela haru mengeluarkan 6 euro Cuma buat secangkir kecil kopi hitam. 

Deauville, where the richest people live

BAYEUX
Ini trip yang paling tidak manusiawi sepanjang masa. Sebenarnya saya sudah 2 kali ke Bayeux, pertama bersama 2 teman Meksiko dan Denmark saya, dan yang kedua bersama teman2 Indonesia. Yang abnormai itu waktu pergi bersama teman Indo. Kejadiannya saat itu adalah setelah perayaan ultah teman di sebuah apartemen dekat kampus lalu saya yang kebetulan bawa mobil diajak oleh Shinta, mahasiswa Indo di Caen, untuk bikin trip dadakan. Waktu menunjukkan pukul 12 malam dan kita nekat juga akhirnya. Hebatnya, mobil saya GPS nya sedang rusak dan bensinnya tiris. Alhasil, saya beli bensin dan mengisinya sendiri terlebih dahulu, UNTUK PERTAMA KALINYA, dan lalu baca bismillah di perjalanan yang hanya bermodalkan penujuk arah sotoy ala Shinta Melody, hahaha. Benar saja, tepat jam 1 pagi, hujan deras sekali di jalan tol menuju Bayeux, jarak pandang saya ga sampe 1 Km, parah banget. Total yang ikut ada 4 orang ditambah saya 1 jadi 5. Di kursi bagian belakang, Trisha, Gendis, dan Inez, udah terlelap tidur, saya dan Shinta melanjutkan perjuangan. Yang paling gila, saya harus melewati daerah pedesaan yang gelap sama sekali. Jujur saya udah takut banget, takut kalau jalan itu ga ada ujungnya. Dan sampailah kita di Bayeux jam 3 pagi dan bingung harus mengunjungi tempat wisata apa di jam segitu. Akhirnya kita malah bobok di mobil sampai jam 5 pagi. 

Sitting at l'Aure in Bayeux

ROUEN
Senangnya saat itu juga sempat berkunjung ke kota tetangga Caen, yaitu region Haute-Normandie, Rouen. Sukur-sukur bisa ketemu dengan Tahiti 80 ya disana. Saya ingat, waktu itu saya kesana bertepatan dengan hari Minggu. Sungguh luar biasa, Rouen kayak kota mati. Sepi. Hihihi. Yang saya lihat hanya ada Sunday Marketnya yang ramai didatengi warga Rouen, selepas itu, saya merasa satu-satunya yang tinggal disana. Krik. Lagi-lagi saya berpetualang naik mobil,  ya kira-kira jarak tempuhnya sma seperti Jakarta-Bandung, 1 jam 45 menit. 30 menit lagi bisa sampai Paris tuh. Karena tol yang dilalui memang tol Caen-Paris, dan letak Rouen juga hanya beberapa kilometer dari Paris.

Centre Ville, Rouen

RENNES
Setelah berkunjung menuju tengah Prancis, sekarang saya bergegas ke barat, tepatnya menuju region Bretagne. Rennes, kota yang mayoritas dipenuhi dengan kaum pelajar. Saking banyaknya mahasiswa, saya bisa hitung berapa jumlah orang-orang lansia disana. Kunjungan saya saat itu juga didasari oleh keinginan untuk hunting kampus S-2 saya dan ternyata ketemu di L’Université de Rennes 2. Niatnya mau observasi sekalian tanya-tanya jurusannya, eh malah ketemu juga sama salah satu mahasiswa Indonesia yang lagi ambil master juga disana. Gak dimana-mana ya orang Indonesia tersebar dipelosok Prancis, bahkan di kota yang tak terjamah sekalipun. Curiganya, eksistensi orang cina akan tertandingi oleh orang kita. Hahaha.

L'universite de Rennes 2

FALAISE
HAHAHAHA. Waduh, belum mulai cerita aja saya sudah ketawa duluan. Jadi begini, Falaise ini sebenarnya masih bagian dari Caen, Cuma letaknya di selatan. Kalau saya analogikan, Falaise ini kayak Depok atau Bogor, letaknya di selatan ibukota. Nah untuk kali ini, saya tidak menyetir untuk pergi kesana, melainkan naik bus yang Cuma ada di jam 11 pagi dan 6 sore. Benar aja, dari sekian kota mati yang saya kunjungi di Prancis, Falaise yang paling mati. Bahkan, di pusat kotanya, saya bisa mendengar satu warga sedang memasang radio keras-keras dari tengah lapangan. Falaise ini ukurannya super mini, tapi tetap aja masih punya kantor pariwisata. Duh, kasih jempol deh buat pemda disana, kota mati kayak gini aja tetap diurusin dari aspek wisatanya, even secara logika, emang ada yang mau dateng mengunjungi?

Le Pays de Falaise

COURSEULLES-SUR-MER/JUNO BEACH
Sekalinya ke pantai, pas winter, hiyak. Maybe I’m the strongest person on earth who dressed simply without coat at that time. Tapi hebatnya, saya benar-benar kuat gak kedinginan. Hahaha. Intinya, Juno Beach ini adalah salah satu dari puluhan pantai yang ada di pesisir barat laut Prancis dan berdekatang dengan region Basse-Normandie. Kalau mau kesana ya harus nyetir ya karena gak ada transportasi umum yang melintasinya. Pantai-pantai di pesisir ini bersejarah bukan main. Waktu PD 2, terjadilah peperangan antara NAZI Jerman dengan Prancis lewat jalur laut ini. Makanya, di tiap pantai yang ada, selalu disisipi museum bersejarah untuk mengenang peristiwa yang sering disebut dengan La Bataille de Normandie.

Juno Beach

LE MONT SAINT MICHEL
Aaak.. ini penutup dari segala rangkaian trip saya selama di Prancis. Setelah cuma bisa lihat di buku panduan perkuliahan dulu, namun kali ini saya langsung bisa menginjakkan kaki di salah satu tempat wisata terbaik di Prancis dan masuk sebagai warisan budaya dari UNESCO. Teman Prancis pernah bilang, Eiffel bukan lah spot utama yang menjadi kebanggan Prancis sebenarnya, melainkan Louvre, Versailles, dan yang terakhir adalah Saint Michel. Huwow, bahagia sekali saya sudah bisa mengunjungi ketiga tempat tersebut. Alhamdulillah.
Le Mont Saint Michel ini adalah sebuah kastil yang letaknya itu agak menjorok ke bagian laut di Prancis. Kalau lihat langsung pasti menakjubkan. Gereja ini terdiri dari beberapa bangunan dan menempati area yang sangat luas bahkan menyerupai sebuah kota kecil. Ada juga tempat tinggal beberapa calon pendeta muda yang sedang dididik disana.  Oiya, waktu kesana sih gila ya karena saya gak bawa mobil hostfam. Jadi waktu itu harus naik covoiturage alias mobil tebengannya Prancis, trus kereta, dan lanjut lagi naik bus bahkan taksi. Hahahaha. Sumper rempong but fun!

Le Mont Saint-Michel

Penyesalannya sih saya belum sempet mengunjungi Disney Land di Paris yang konon katanya paling banyak didatangi oleh wisatawan. Banyak pertimbangan untuk pergi kesana, selain mahal, saya lebih menikmati peninggalan sejarah dan budaya.
Dan satu lagi, belum ada kesempatan untuk datang ke Prancis Selatan. Suatu hari nanti.....












Thursday, January 10, 2013

French studies has changed my destiny

Tidak merasa malu dan minder menjadi anak lulusan Sastra.

Walaupun terkadang cibiran orang-orang yang terlalu menyakitkan gendang telinga sering kali tidak dapat terbantahkan.


"Oh, kuliah sastra? Mau kerja apa?"

Maaf ya tulisannya gak bisa lebih gede lagi dari itu. Hanya meyakini kalau kalimat tersebut benar-benar membuat sakit hati mahasiswa jurusan sastra.

Mantan dosen saya pernah bilang ;

Yang hari gini masih memandang sebelah mata jurusan apapun, kembali aja deh ke zaman kegelapan.

Saya dulu memang tidak menjadikan Sastra Prancis adalah pilihan pertama kuliah saya waktu SPMB. Boleh dikata, pilihan kedua ini adalah asal-asalan. Tapi bukan salah saya kalau memasuki tahun kedua kuliah, saya ternyata jatuh cinta juga. Prancis, saya begitu cinta mati dengan sejarah dan budayanya.

Ketertarikan saya terhadap aspek budaya itulah yang membuat saya menjadi rajin kuliah sampai akhirnya selesai kuliah kecepetan. Niatnya, saya mau membahas skripsi yang berhubungan dengan Cultural Management di Prancis, tapi apa daya saya malah disuruh non skripsi supaya cepet lulus.

Oiya, buat yang belum tau kuliah Sastra itu apa, dijelaskan sekali lagi ya, bahwa kita tidak hanya belajar melulu tentang bahasa. Misal, saya mahasiswi Sastra Prancis, saya gak cuma belajar bahasa Prancis, tapi saya juga mempelajari Kesusastraan, Sejarah dan Kebudayaannya. Kita juga punya ilmu kuliah umum seperti Filsafat, sedikit Ilmu Antropologi dan Sosiologi. Kemudian, jangan bandingkan juga belajar bahasa di jurusan sastra itu sama aja seperti les di tempat2 kursus ya. Pembelajaran kita lebih ditekankan pada analisa bahasa itu sendiri. Misal, kita tidak hanya bisa membuat sebuah kalimat dalam bahasa Prancis, tetapi kita juga dituntut harus bisa membedah kalimat-kalimat tersebut secara berstruktur. Ilmu linguistik atau bahasa juga dibelah lagi jadi beberapa bagian menjadi Fonetik, MorfologI, Sintaksis, Semantik, Leksikografi, sampai Penerjemahan. Mata kuliah bahasa Prancis pun ada sebanyak 6 tingkat, plus terakhir ada Bahasa Prancis Khusus. Not as simple as that.

Suatu kebanggaan bagi anak sastra manapun, setelah mereka menyelesaikan perkuliahannya, mereka bisa secara nyata mengunjungi negara yang telah mereka pelajari seluk beluknya selama kurang lebih 4 tahun itu.
Ya, dan saya juga.
Saya merasa gak lucu kalau sudah jungkir balik kuliah Sastra Prancis tapi gak bisa ke Prancis langsung. Even, duit pas-pasan. Di pas-pasin bahkan. Paaaaasssss banget. ;p

And, the miracle has come...

Check out this link...

http://www.facebook.com/photo.php?v=10150354556404814&set=vb.694084813&type=3&theater

Kuliah sastra Prancis malah membawa berkah ke Prancis. Rasanya senang bisa melihat semua wujud-wujud di buku kuliah Campus secara nyata di depan mata, bahkan menginjakkannya, menyentuhnya, merasakannya.... whoaa...la vie etait trop parfaite!

French studies, you changed my destiny. Merciiiiiii......





Come back?


Should I go back?


Just wait for the right time... 

Thursday, January 3, 2013

Nostalgia. Dalam edisi Trax Hunt 2008.



Saya sempat buka2 blog saya di tahun 2008. Disitu ada sebuah cerita tentang pencapaian saya masuk sebagai salah satu penyiar di Trax FM. Lagi2 ini adalah kompetisi. Dari ratusan anak muda yang mau jadi penyiar disana, saya masuk menjadi 10 besarnya. Itu usaha atau hoki? Yang jelas saya usaha dan gak cuma nunggu hoki ya.

Ini sepenggal ceritanya...



Sebenernya gw agak males ngirim CV ke Trax, serem bo', kayaknya standarnya tinggi bgt, percaya atau tidak, cuma Trax radio yang gw skip saat gw apply CV ke radio-radio swasta beberapa bulan yg lalu. Tapi, hati mulai bergumam, apa salahnya gw kasih CV kesana ya? Lagipula gw kan anak trax, udah dengerin radio itu sejak 8 tahun lamanya, dan gw dah tau banget ni radio bentuknya kayak apa. Waktu gw di Global juga PD gw bilang, gaya siaran gw Trax bgt,haha, sombong, yah begitulah adanya. Akhirnya gw memberanikan diri ngasi CV kreatif yang berbentuk scrap book (asli standar bgt), yang udah gw buat pontang-panting sendirian tanpa bantuan siapapun. Itu pun gw kirim di hari trakhir dan hanya bermodalkan nekat plus percaya diri yang tinggi. 


Menurut cerita diatas, usaha saya masih belum terlihat signifikan memang, tapi paling tidak saya usaha dan berani mengirim CV ke radio idaman. Gak nunggu hoki kan?

Sebulan lamanya, kok tak ada kabar berita? Udah mulai pasrah dan tidak mengharap, huhu..yaudah lah yaaaa.. 
Ehh..tak disangka tak dinyana..tanggal 9 Juli 2008 jam 11 pagi, handphone berdering.. 

Caller : Halo..ini benar rezzy nizawati? Gw : Iya..ini dengan siapa ya?Caller : Saya Adis dari Trax FM, hari senin tanggal 14 Juli bisa datang interview di kantor Trax ga? Jam 2 siang yaaa... 


Fase yang diatas tadi adalah kesempatan yang diberikan sama Tuhan atas usaha yang saya telah lakukan. Hoki? Mmm.. dikasih ‘kesempatan’ lebih tepatnya kali ya.
Selanjutnya…



Saringan pertama interview tanggal 14 Juli 2008. Sehari sebelumnya udah buat kaos "i'm the now generation" dan buat bendera sendiri (unjuk bakat gak jelas,haha). Gw cari bahannya sendiri di mayestik trus gw kasih deh ke tukang jahit, asli niat bgt gw!! Demi mimpi!.

Nah, ini udah keliatan usaha dan niat abis2an saya. Biasanya sih, kalo udah masuk ke tahap-tahap menuju seleksi akhir, saya gak pernah setengah hati. Kenapa? Karena itu sama aja seperti menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan kasih.
Mmm.. masih bilang ini hoki ? xp
Tunggu, ini ada usaha paling edan dan malu-maluin yang pernah saya lakukan…



Saringan kedua atraksi gak tau malu di EX 16 Juli 2008. Untuk pertama kalinya 26 orang yang terpilih dari ratusan orang yang ngirim CV berkumpul di EX. Kita dipermalukan di depan khalayak ramai plaza indonesia EX. Tahapan kedua mulus tak sedikitpun cacat..gw lolos ke tahap berikutnya..20 Trax Hunt akan training di Trax FM. 


Dan usaha pun membuahkan hasil kan?
Eh, ternyata belum selesai sampai sini perjuangannya.



Tes psikotes 18 Juli 2008. HUH! Bikin otak berceceran di lantai. Bener2 menguras otak. Mana gw harus naek ojek dari ratu plaza ke sarinah. Nyampe-nyampe harus ngerjain tes yang gak ada abisnya. Nasip..nasip.. 

Training 21-31 Juli 2008. Training di Trax..widih..mimpi apa gw bisa training di radio idaman..?? Gokil! Serasa mimpi..! Serunya gw punya temen2 baru loh..dari artis sinetron, bintang iklan, anaknya artis, penyanyi, adeknya artis,wah..serasa artis juga gw,hihi. 


Mixing and Demo 30 Juli - 10 Agustus 2008. Bikin demo secara manual di ruang produksi dan latihan mixing di studio siaran. Hectic tapi mengesankan. So far..ceritanya baru sampe sini,soalnya masih ada beberapa penyaringan lagi dan gw masih gak tau akan seperti apa. Gw cuma bisa berusaha dan berdoa, asli ini mimpi gw banget, dan bener-bener mukjizat kalo gw bisa kerja di Trax FM, oooooohhhh..... Semoga kegagalan kemaren bisa menjadi pelajaran buat gw..tapi..gw berharap sih..untuk yang satu ini jangan gagal lagi donnkk...nyesek banget. Amin. 



Jadi, masih ada penyaringan lagi ya. Kapan saya mulai siarannya sih? Usaha apa lagi yang harus saya kerahkan? Tuhan benar2 kasih mukjizat ke saya? Kalo saya usaha sih, kemungkinannya ada. Pasti ada.



Hari jumat tanggal 8 bulan 8 tahun 2008 menjadi saksi dimana mbak vivi (PD trax fm) mempercayakan gw untuk siaran pake materi kata hari sabtu besoknya,huahuahua...lo bisa bayangin gmn senengnya gw bisa on air di radio kesayangan (gilaaa..ye kan??).


See? Dari sekian banyak seleksinya akhirnya saya bisa merasakan siaran beneran di Trax FM.  Udah kelar nih? Hihi, jangan seneng dulu. Kalau sudah berhasil meraih apa yang diinginkan, jangan gampang puas. Nih coba liat cerita selanjutnya…


ah..persiapan harus matang nih, even siarannya di pagi2 buta (jam 5 pagi ajaaah,haha), di hari sabtu pula, ada bangeett yg dengerin, tapi tetep aja lah gw harus maksimal, well prepared! 

Oh, ternyata memang tidak boleh terlalu senang ya. Siaran pertamanya ada di waktu yang sangat tidak manusiawi, yaitu jam 5 pagi. Hihihi. Just enjoy and well prepared! Saya sudah mempersiapkannya kan?
Lalu…

gw seneng banget udah lolos ke tahap selanjutnya,which is masa percobaan selama 3 bulan..


Dan menjadi penyiar radio di radio idaman bukanlah sekedar mimpi lagi.
Orang-orang bisa mengira kalau setiap pencapaian yang  saya raih terjadi semata-mata karena sebuah hoki dan keberuntungan belaka. Padahal…

Tidak semua yang terjadi pada kita adalah suatu hal yang kebetulan. Siapa tahu memang karena kita sudah berusaha dan mempersiapkannya sejak lama.