Monday, April 22, 2013

Dalam edisi : pernah merasakan

Tidak bermaksud untuk mengungkit-ungkit apa yang pernah saya punya dan saya alami beberapa waktu silam, saya hanya ingin meyakini bahwa saya tidak mau menyesali apapun yang terjadi saat ini dan merasa tidak puas, karena saya sudah pernah merasakan, semua. Anggap saja seperti itu.

Pengen mengulang yang dulu. Pengen ngerasain apa yang pernah saya lakukan dulu. Pengen punya pengalaman hidup seseru dulu.

Dulu, dulu, dan dulu.

Dan kenapa saya tidak bisa seperti dulu?

Se-ekpresif dulu...



Se-heboh dulu...


Jawabannya pun mungkin simpel, ya karena dulu adalah dulu. Sekarang bukan dulu. Sekarang adalah sekarang.
People grow up. People change.

Mungkin dulu saya tidak pernah banyak berpikir dengan langkah-langkah apa yang saya ambil sampai akhirnya membawa saya ke beberapa pengalaman yang tak terlupakan.

Pengalaman yang cuma buat saya geleng2 kepala sendiri saat melihat di album foto milik pribadi. How can I did all that crazy things?

Tidak pernah mau menuntut hidup harus indah, cuma pengen ditambah lagi pengalamannya. Bisa kan Tuhan? Kasih kesempatan saya untuk berekspresi dan keluar dari kejenuhan ini.







Sunday, April 14, 2013

I just want to say I miss you both so much, Julie and Suzy!

Jadi tuh beberapa hari yang lalu, salah seorang teman bule saya yang berasal dari Chihuahua, Meksiko ngetweet =

Rezzy, I miss you... please don't forget me!

Namanya Suzanna Hernandez. Bukan Suzanna bintang film horor Indonesia yang suka beli sate 20 tusuk itu ya.

Well, si Suzanna a.k.a Suzy memang teman dekat saya selama saya hijrah ke Prancis setahun yang lalu. Umurnya baru 21 tahun tapi asik banget untuk diajak berdiskusi, hura-hura, dan sedih bareng. Mukanya tua sih, hahaha, standar bule ya, cantik, rambutnya curly, miriplah 11/12 sama Maria Mercedez. Suzy ini anaknya suka banget party. Hal pertama yang ditanyain dia ke saya waktu ketemu di Caen adalah = Rezzy, is there a nightclub here?

Seperti inilah kira-kira penampakannya...

Me and Suzy at Courseulles-sur-Mer, France, 2011

Selain Suzy yang doyan pesta, saya pun juga punya satu sahabat lagi, tapi kali ini berasal dari negara dekat kutub utara. AGU alias Anak Gaul Utara. Namanya adalah Julie Larsen. Julie malah lebih muda lagi, umurnya baru 20 tahun cuma ya cara pikirnya dia kayak umur 26 tahun. Salut nih sama para bebule2 ini, masih muda tapi jauh dari kata manja. Julie berasal dari Kopenhagen, Denmark. Kota yang kata dia sangat bersih, disiplin, dan KAYA. Pajaknya juga gede sih, cuma ya lumayan lah efeknya, Julie ga pernah bayar uang sekolah dari masih SD sampe kuliah, malah katanya tiap bulan buat para pelajar juga dikasih uang saku. Ckck. Iri ga sih!

Julie kayak gini nih wujudnya...

Me and Julie at Versailles, France, 2011

Kita bertiga selalu berkomunikasi dengan 5 bahasa, Inggris, Prancis, Spanyol, Denmark, dan Indonesia. Sebenarnya bahasa umum keseharian cuma inggris dan prancis. Ketiga sisa bahasa lainnya keluar dari mulut masing-masing kita kalo lagi kesel dan nyumpahin orang aja sih. Jadinya, kosa kata yang kita tau yaa.. bahasa-bahasa yang ehem.. agak kasar. Hihi. Senang sekaligus sedih sih pas Suzy dan Julie tau kalimat = Sumpe lo? Demi apeeeee?, dengan logat bule mereka. Senang karena mereka bisa mengucapkan sebuah kalimat dalam bahasa Indonesia yang sangat hits di kalangan anak muda Jakarta, tapi sedihnya juga ada, mereka sangat susah untuk melafalkan 'Sum' akhirnya jadi 'Sampe looo?' dan 'Ape' jadinya 'Ep', 'Demi ep????'. It sounds weird. Tapi saya hargai usaha mereka. Hahaha.

Selain berteman di kampus, kita juga sering menghabiskan akhir pekan bersama. Kita sering jalan-jalan keliling kota dan keluar kota Caen, bahkan kita sering ke Paris bareng. Kita bertiga bisa nyetir mobil dan suka make mobil hostfam masing-masing. Jadi, suka ganti2an berwisatanya. 
Yang saya rindu adalah disaat kita berada di mobil bertiga, ngomongin hal apapun. Dari kebiasaan orang Indonesia yang suka senyum, kata Suzy, sampe masalah cowok. Ternyata, cewek dari belahan dunia manapun, kalo udah ngomongin urusan yang satu itu tuh, SAMAAA AJA, HEBOH!

Me, Julie and Suzy at Sacre Coeur Montmartre, Paris, France, 2011

Dan akhirnya pun kita berpisah.
Suzy yang pulang duluan ke Meksiko.

Saya ingat banget. Saya yang anter Suzy ke stasiun Gare de Caen, karena dia harus ke Paris dulu buat naik pesawat di bandara Charles de Gaulle. 
Sehari sebelum pulang, Suzy nginep di rumah saya yang kebetulan hostfam saya lagi ga ada di rumah. Kita ngobrol panjang lebar masalah yang gak penting sampe masalah masa depan. Saya juga tanya tentang rencana ke depan dia selepas pulang ke Chihuahua.
Momen yang paling sedih sepanjang hidup saya, hiks. 

Lalu, beberapa bulan kemudian, giliran saya yang pulang ke Indonesia.

Julie sekarang yang berat meninggalkan saya. Dia bahkan gak sempat bertemu dengan saya pada malam terakhir saya di Caen karena saat itu Julie sedang di Paris.

Jujur, kita gak tau kapan kita bisa dipertemukan lagi.

Perkataan terakhir Julie dan Suzy saat itu adalah...

'Rezzy, kalo lo married, please undang kita ke Jakarta. Kita mau banget datang, tanpa lo harus membayar tiket pesawatnya.'

Dan saya pun juga bilang =

'Okay... nanti kalo kalian juga married, please undang gue ke Meksiko dan Denmark yah, tapi... tiketnya kalian yg bayarin!'

Typical Indonesia, gak mau rugi. HAHA.


Hhhhh.
I just want to say I miss you both so much, Julie and Suzy! 




Wednesday, March 27, 2013

Life is all about choices...



Setelah dipikir-pikir, semua yang ada di sekeliling manusia dan kehidupannya itu adalah pilihan. Ini bisa dibilang adalah hal yang paling dibenci sama orang-orang yang plin-plan, apalagi sudah menyangkut masalah masa depan.  *rhyme*  ;p

Kita mulai dari pagi hari..
Alarm handphone bunyi, milih di snooze atau langsung dimatiin dan bangun?
Mau mandi, mau sabunan dulu atau shampoan dulu?
Sarapan, mau makan nasi goreng atau roti? Minumnya, susu atau teh?
Berangkat kerja, naik kereta aja biar cepet tapi penuh desak2an atau naik mobil pribadi, nyaman tapi kena macet?

Sampai akhirnya kita mulai memilih untuk urusan-urusan yang lebih serius, seperti..

Mau kuliah apa, masuk Teknik karena ingin dikelilingin cowok ganteng atau masuk kedokteran biar bisa jadi kebanggaan ortu?
Abis kuliah, mau langsung married atau kerja dulu?
Abis kelar S1, mau kerja dulu atau langsung S2?

Lalu, setelah memasuki dunia pekerjaan, mau kerja yang mencari uang atau sesuai dengan passion walaupun gajinya kecil?
Bagi perempuan, mau kerja terus sampai dapat karir tertinggi atau akan tetap mengalah untuk menjadi ibu rumah tangga?

Sampai pada akhirnya, pilihan pun datang pada...

Mau cari pacar satu kantor dan satu profesi atau diluar dari lingkungan kita? Mau yang lebih tua atau yang lebih muda? Orang padang atau orang jawa? Yang single atau pacar orang? ;p

Banyaknya si pilihan.


Tapi satu yang pasti…
Tidak ada pilihan yang salah. Yang salah adalah cara pandang orang yang menganggap pilihan itu salah. Pilihan yang dianggap salah belum tentu dilihat salah oleh orang yang memilihnya. Selama resiko yang diterimanya tidak dirasa sebagai suatu kesalahan, pilihan salah itu tidak salah.

Kesalahan bisa saja menjadi kebenaran, atau kesalahan yang dijadikan pembenaran? ;p

Sunday, February 17, 2013

A letter to my Dad..

Hello Dad,
Heaven treated you well?

Cela a été presque 5 ans que tu est décédé...

It has been almost 5 years since you passed away..

Gak kerasa udah 5 tahun...

Dan makin hari, makin ga bisa lupa dengan segala memori bersama papa..

Dad, why are you not here at the time like this?

I really want to show you something

I want you to see my achievements now...It's aaaallllll just for yooooouuuuu, Daaaaddddd.




Have you seen it from.... heaven? Please say yes.

Masih ga percaya pa. Ejie bisa ngelakuin ini semua sendiri. Dari papa gak ada, Ejie udah mengurus hidup Ejie secara mandiri. Padahal, dulu kalo ada apa-apa ya mintanya ke papa. Tapi sekarang keadaan udah berubah 180 derajat. Udah dari 5 tahun yang lalu, semua kemanjaan itu sirna.

Papa selalu bilang untuk selalu melakukan banyak hal dalam hidup. I just did.
Papa selalu bilang untuk memperbanyak pengalaman. I just did.
Papa selalu bilang untuk bebas meraih mimpi dan cita-cita. I'm in the process.

Makasih pa udah banyak ngasih pelajaran hidup buat Ejie.
Hope to see you again someday.
I miss you.

-Your Little Girl-













Thursday, January 24, 2013

This is my first daaaayyy... Hello Kemlu...

Tibalah saya di Pusdiklat Kemlu. Setelah berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, lebay, tapi pada akhirnya saat2 yang saya tunggu datang juga, yaitu MASUK ASRAMA.

Hari pertama ini saya dikejutkan dengan berbagai jenis makhluk di SEKDILU 37. Ya Tuhan, kita memang sempat dibilang angkatan yang nilai-nilainya standar aja, tapi asli deh, orang-orangnya tuh asik semua. Asik dalam artian, mereka pintar tapi gila. Hamdallahnya saya ada di kelas Sekdilu B yang isinya cowok-cowok aneh bin ajaib. Ada anak gaul, anak keraton, anak nerd, anaknya siapa tau, tapi selalu ada aja tingkah mereka yang bisa bikin saya ketawa.

Tadi saya bertemu Direktur Sekdilu namanya Pak Ben, beliau banyak cerita orangnya. Ya, lumayanlah 3,5 jam isi sesi perkenalan didominasi oleh beliau semua. Intinya sih, angkatan saya paling prihatin. Selain memang untuk Sekdilu ini ga ada anggarannya, magang di luar negeri pun mau ditiadakan. Hahaha. Dengan berbagai alasan sih, tapi tetap aja, masalah anggaran itu masih kurang bisa saya terima dengan akal sehat. Yang kedua, beban baru buat saya dan teman-teman adalah nilai-nilai yang didapat dari tes masuk tahun ini sangatlah dibawah standar. Dibandingkan dengan Sekdilu 35 dan 36, belum ada apa2nya.

Oh iya satu lagi, mayoritas anak S2 ya. Agak gimana gitu, hahahaha. -kemudian melihat kondisi pendidikan diri sendiri-

Somehow, ini bisa jadi cambukkan banget buat saya. Seneng karena bisa berada dengan orang-orang dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan Papua, dan mereka yang punya background yang berbeda. Saya pasti akan banyak belajar dari mereka.

Saya tidak mau terlalu berambisi, berkompetisi, mengalahkan kemampuan teman-teman yang lain, apalagi menjadi egois. Ekspektasi saya cuma satu, semoga lewat diklat selama 8 bulan ini, ada banyak pelajaran yang saya raih.
Hello saya anak sastra, banyak PR yang harus dikejar untuk menyamakan mereka yang anak HI dan S-2 di luar negeri.


Tapi tetep aja sih...

Still can't believe I can make it.
I can be surrounded by good people here.


Monday, January 14, 2013

Gerakan Anti Anak Manja.



Cuma bilang, saya paling ga bisa ngeliat anak…seumuran saya dan…… manja. D'OH!!!
Yang apa2 tinggal suruh, tinggal menikmati fasilitas yang dikasih, yang cuma bisa melakukan sesuatu dengan uang, yang cuma bisa terima jadi, yang cuma bisa ngekor, yang cuma bisa enaknya.. Dan yang gak punya prinsip dalam hidupnya.

Ucapan ini keluar sendiri dari mulut seorang anak berumur 24 tahun yang sudah merasakan 18 tahun dimanjakan oleh orangtuanya, yang adalah saya. Kenapa Cuma 18 tahun? Sisanya adalah fase transisi saya menjadi anak yang gak manja, mandiri, atau bahkan sekarang udah terlalu mandiri. Hahaha.

Manja sih boleh, tapi alangkah baiknya sesuai porsi lah ya.

Gak pernah nyalahin juga sih keadaan orang2 yang memang sudah difasilitasi, sudah tinggal jadi, tinggal jalan. Tapi, saya yakin, ada banyak alasan juga utk tidak memakai semua yang ada di mereka, yang memudahkan mereka, untuk mengambil jalan lain yang mungkin jauh lebih challenge-ing dan baik.

Sebagai contoh, jujur, saya lebih appreciate anak yang bisa sukses jadi pejabat dengan usaha dia dari nol even dia anak pejabat daripada mereka yang hanya memakai fasilitas dan memanfaatkan keadaan yang dimilikinya untuk bisa menjadi pejabat juga… seperti…..ayahnya. ;p

Saya juga paling anti ngeliat anak yang cuma bisa ngeluh padahal kehidupannya masih dalam kelas A-B. Adaaaa aja yang dikeluhin. Heran.

Cowok-cowok yang punya pacar cuma dijadiin supir untuk nemenin dia ke salon dan shopping, saya juga prihatin dengan kalian.

Dan satu lagi, saya paling kasian sama anak yang cuma bisa ngabisin duit orangtuanya dan dipake buat hal2 yang  gak penting. Sekalinya bener buat sekolah, di luar negeri pula, eh malah gak selesai-selesai. Atau dikasih modal buat usaha, eh uangnya buat narkoba.

Mungkin mereka tidak tahu betul apa esensi kehidupan, dimulai dari bagaimana kita harus berjuang dalam menjalani hari-hari yang dikasih Tuhan sekaligus menikmati segala jerih payahnya.

Beruntunglah kalian yang pernah merasakan fase bahagia dan susahnya hidup dalam kurun waktu yang cepat. Dengan begitu kalian punya cara pandang yang luas terhadap kehidupan itu sendiri dari dua kacamata yang berbeda. 

Terima kasih atas fase hidup bahagia. Terima kasih atas fase hidup menderita. You've teached us a lot how to survive.



NB ;  Mohon maaf jika saya terlalu nyinyir. Tulisan ini sama sekali tidak berniat untuk menyinggung satupun kaum atau orang tertentu.

Saturday, January 12, 2013

The Journey of Life : France Adventures


Masih teringat,  kota atau tempat mana saja yang berhasil saya kunjungi selama tinggal di Prancis. Dan di setiapnya pasti mempunyai keunikkan sendir dan cerita yang gak mudah untuk dilupakan.
Oke, yang pertama dari yang paling mainstream dulu deh.

PARIS
Paris or you can say ‘Pari’ in French, Is one of the standard city I want to tell first. Semua orang kalo ke Prancis pasti maunya ke Paris, hihihi. But you know what, France still has a lot of cool cities more than Paris. Kelebihannya, kamu mau cari apapun di Paris pasti ada, pekerjaan, keriaan dan kesenangan, sekolah, sampai jodohpun mungkin ada. Tapi, kalau yang kamu cari adalah ketenangan untuk hidup, I don’t recommend it. At all. Paris sangat hectic, guys. Kalian bisa stress kalau mengikuti gaya hidup mereka, kecuali kalian memang the truly Parisians. I don’t mind.
Paris, the city of lights, cantik di waktu siang, apalagi di malam hari. Your lights will guide me home. Like Coldplay said.



Eiffel Tower on Xmas eve

VERSAILLES
Siapa yang gak kenal Marie Antoinette dan suaminya yang kerjaannya Cuma bisa ngabisin duit rakyat dan hidup dengan belenggu kemewahan? Nah, Versailles ini adalah istana megah punyanya mereka dulu. Wah, ini berkali-kalinya megah, bahkan mewah, luas, dan terlihat sangat mahal. Kalo diibaratkan koruptor, Louis XVI dan Marie Antoinette gak setengah-setengah melakukan korupsi. Waktu saya kesana itu pas sekali ada sebuah pertunjukkan air mancur di kebunnya yang sangat luas itu. Jadi yang awal masuknya gratis, ternyata harus bayar 7 euro. Yaudah, yang penting puas. Taman-tamannya pun semua tertata rapi dan cantik kayak lagi di sebuah dongeng anak-anak. Kekurangannya sih ada ya, terlalu gede. Capek banget kalo buat keliling seharian, apalagi saat itu saya salah kostum, pake boots dengan hak yang cukup tinggi.
Oiya, dengan berkungjungnya saya ke Versailles ini telah merapuhkan anggapan saya yang selama ini salah. Saya kira Versailles itu ada di Paris, tapi faktanya jauh juga walaupun tetap di region l’île de France.  Saya lupa ada di zona berapa, tapi yang jelas bukan di kota Paris nya. Yes, Versailles isn’t in Paris. HAHAHAHA. 

Versailles Gardens

CAEN
Gak banyak yang tahu tentang kota ini, sampai mantan dubes di Prancis selama 18 tahun yang mewawancarai seleksi Kemlu saya kemarin saja tidak tahu. Menyedihkan. Hahaha. Kota ini emang paling kecil diantara semua kota yang ada di Prancis. Penduduknya aja paling Cuma 200ribuan. Dan sebenarnya itulah mengapa saya dambakan sekali kota tempat tinggal saya waktu di Prancis ini. Tenang banget dan gak berisik. Caen, saking kecilnya kota ini, saya sampai hafal jalur-jalur bus dan tram nya, tau jalan-jalan tikusnya, dan bisa bertemu di halte tram berkali-kali dengan orang yang sama. Hahaha. Seriously, this city has brought me a ton of memories with my host fam, my friends, and my life itself.

Caen city

DEAUVILLE
Masih masuk di bagian arrondissement-nya Paris, cuma letaknya ada di region Basse-Normandie. Deauville menjadi salah satu kota di utara Prancis yang saya tuju bermodalkan nyetir dan GPS saja. Ternyata jarak Caen-Deauville hanya ditempuh 45 menit kalau naik mobil. Tanpa macet, tanpa klakson yang mengganggu, justru malah disuguhkan dengan pemandangan hamparan lading-ladang hijau cantik khas Prancis. Asik.
Gak kuat sama sekali dengan harga-harga di Deauville, mahal layaknya di Paris. Sampai saya gak rela haru mengeluarkan 6 euro Cuma buat secangkir kecil kopi hitam. 

Deauville, where the richest people live

BAYEUX
Ini trip yang paling tidak manusiawi sepanjang masa. Sebenarnya saya sudah 2 kali ke Bayeux, pertama bersama 2 teman Meksiko dan Denmark saya, dan yang kedua bersama teman2 Indonesia. Yang abnormai itu waktu pergi bersama teman Indo. Kejadiannya saat itu adalah setelah perayaan ultah teman di sebuah apartemen dekat kampus lalu saya yang kebetulan bawa mobil diajak oleh Shinta, mahasiswa Indo di Caen, untuk bikin trip dadakan. Waktu menunjukkan pukul 12 malam dan kita nekat juga akhirnya. Hebatnya, mobil saya GPS nya sedang rusak dan bensinnya tiris. Alhasil, saya beli bensin dan mengisinya sendiri terlebih dahulu, UNTUK PERTAMA KALINYA, dan lalu baca bismillah di perjalanan yang hanya bermodalkan penujuk arah sotoy ala Shinta Melody, hahaha. Benar saja, tepat jam 1 pagi, hujan deras sekali di jalan tol menuju Bayeux, jarak pandang saya ga sampe 1 Km, parah banget. Total yang ikut ada 4 orang ditambah saya 1 jadi 5. Di kursi bagian belakang, Trisha, Gendis, dan Inez, udah terlelap tidur, saya dan Shinta melanjutkan perjuangan. Yang paling gila, saya harus melewati daerah pedesaan yang gelap sama sekali. Jujur saya udah takut banget, takut kalau jalan itu ga ada ujungnya. Dan sampailah kita di Bayeux jam 3 pagi dan bingung harus mengunjungi tempat wisata apa di jam segitu. Akhirnya kita malah bobok di mobil sampai jam 5 pagi. 

Sitting at l'Aure in Bayeux

ROUEN
Senangnya saat itu juga sempat berkunjung ke kota tetangga Caen, yaitu region Haute-Normandie, Rouen. Sukur-sukur bisa ketemu dengan Tahiti 80 ya disana. Saya ingat, waktu itu saya kesana bertepatan dengan hari Minggu. Sungguh luar biasa, Rouen kayak kota mati. Sepi. Hihihi. Yang saya lihat hanya ada Sunday Marketnya yang ramai didatengi warga Rouen, selepas itu, saya merasa satu-satunya yang tinggal disana. Krik. Lagi-lagi saya berpetualang naik mobil,  ya kira-kira jarak tempuhnya sma seperti Jakarta-Bandung, 1 jam 45 menit. 30 menit lagi bisa sampai Paris tuh. Karena tol yang dilalui memang tol Caen-Paris, dan letak Rouen juga hanya beberapa kilometer dari Paris.

Centre Ville, Rouen

RENNES
Setelah berkunjung menuju tengah Prancis, sekarang saya bergegas ke barat, tepatnya menuju region Bretagne. Rennes, kota yang mayoritas dipenuhi dengan kaum pelajar. Saking banyaknya mahasiswa, saya bisa hitung berapa jumlah orang-orang lansia disana. Kunjungan saya saat itu juga didasari oleh keinginan untuk hunting kampus S-2 saya dan ternyata ketemu di L’Université de Rennes 2. Niatnya mau observasi sekalian tanya-tanya jurusannya, eh malah ketemu juga sama salah satu mahasiswa Indonesia yang lagi ambil master juga disana. Gak dimana-mana ya orang Indonesia tersebar dipelosok Prancis, bahkan di kota yang tak terjamah sekalipun. Curiganya, eksistensi orang cina akan tertandingi oleh orang kita. Hahaha.

L'universite de Rennes 2

FALAISE
HAHAHAHA. Waduh, belum mulai cerita aja saya sudah ketawa duluan. Jadi begini, Falaise ini sebenarnya masih bagian dari Caen, Cuma letaknya di selatan. Kalau saya analogikan, Falaise ini kayak Depok atau Bogor, letaknya di selatan ibukota. Nah untuk kali ini, saya tidak menyetir untuk pergi kesana, melainkan naik bus yang Cuma ada di jam 11 pagi dan 6 sore. Benar aja, dari sekian kota mati yang saya kunjungi di Prancis, Falaise yang paling mati. Bahkan, di pusat kotanya, saya bisa mendengar satu warga sedang memasang radio keras-keras dari tengah lapangan. Falaise ini ukurannya super mini, tapi tetap aja masih punya kantor pariwisata. Duh, kasih jempol deh buat pemda disana, kota mati kayak gini aja tetap diurusin dari aspek wisatanya, even secara logika, emang ada yang mau dateng mengunjungi?

Le Pays de Falaise

COURSEULLES-SUR-MER/JUNO BEACH
Sekalinya ke pantai, pas winter, hiyak. Maybe I’m the strongest person on earth who dressed simply without coat at that time. Tapi hebatnya, saya benar-benar kuat gak kedinginan. Hahaha. Intinya, Juno Beach ini adalah salah satu dari puluhan pantai yang ada di pesisir barat laut Prancis dan berdekatang dengan region Basse-Normandie. Kalau mau kesana ya harus nyetir ya karena gak ada transportasi umum yang melintasinya. Pantai-pantai di pesisir ini bersejarah bukan main. Waktu PD 2, terjadilah peperangan antara NAZI Jerman dengan Prancis lewat jalur laut ini. Makanya, di tiap pantai yang ada, selalu disisipi museum bersejarah untuk mengenang peristiwa yang sering disebut dengan La Bataille de Normandie.

Juno Beach

LE MONT SAINT MICHEL
Aaak.. ini penutup dari segala rangkaian trip saya selama di Prancis. Setelah cuma bisa lihat di buku panduan perkuliahan dulu, namun kali ini saya langsung bisa menginjakkan kaki di salah satu tempat wisata terbaik di Prancis dan masuk sebagai warisan budaya dari UNESCO. Teman Prancis pernah bilang, Eiffel bukan lah spot utama yang menjadi kebanggan Prancis sebenarnya, melainkan Louvre, Versailles, dan yang terakhir adalah Saint Michel. Huwow, bahagia sekali saya sudah bisa mengunjungi ketiga tempat tersebut. Alhamdulillah.
Le Mont Saint Michel ini adalah sebuah kastil yang letaknya itu agak menjorok ke bagian laut di Prancis. Kalau lihat langsung pasti menakjubkan. Gereja ini terdiri dari beberapa bangunan dan menempati area yang sangat luas bahkan menyerupai sebuah kota kecil. Ada juga tempat tinggal beberapa calon pendeta muda yang sedang dididik disana.  Oiya, waktu kesana sih gila ya karena saya gak bawa mobil hostfam. Jadi waktu itu harus naik covoiturage alias mobil tebengannya Prancis, trus kereta, dan lanjut lagi naik bus bahkan taksi. Hahahaha. Sumper rempong but fun!

Le Mont Saint-Michel

Penyesalannya sih saya belum sempet mengunjungi Disney Land di Paris yang konon katanya paling banyak didatangi oleh wisatawan. Banyak pertimbangan untuk pergi kesana, selain mahal, saya lebih menikmati peninggalan sejarah dan budaya.
Dan satu lagi, belum ada kesempatan untuk datang ke Prancis Selatan. Suatu hari nanti.....